Hubungan jarak jauh atau long distance relationship tidak ada yang enak. Apalagi jika sudah menikah dan punya anak.

Tidak semudah yang dibayangkan. Banyak halangan, rintangan, godaan yang dapat menimbulkan pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga.

Selain kepercayaan, masalah lain yang mungkin muncul saat menjalani hubungan jarak jauh adalah keuangan. Bisa saja suami atau istri hidup terlalu boros di tempat tinggal masing-masing.

Berikut cara agar kondisi keuangan rumah tangga tetap stabil saat kamu dan pasangan berjauhan:

Baca Juga: 3 Cara Siasati Biaya Pendidikan yang Semakin Mahal

 

Mengatur Keuangan
Mengatur keuangan

1. Terbuka tentang penghasilan

Hal pertama yang mesti dilakukan adalah saling terbuka tentang pendapatan masing-masing setiap bulan jika suami istri bekerja atau membuka usaha.

Misalnya suami di Jakarta bekerja, sementara istri di Yogyakarta buka usaha jualan online. Atau ketika suami mendapatkan bonus dari kantor, laporkan seluruhnya.

Selain itu, sendainya suami kena pemotongan gaji, langsung beritahukan ke istri agar bisa memaklumnya. Istri pun dapat mengerti keadaan suami dengan tidak meminta uang lebih untuk belanja sehari-hari.

Jangan sampai ada yang ditutup-tutupi. Toh, uang tersebut milik kalian bersama dan digunakan untuk kepentingan bersama pula. Terlebih bila sudah memiliki buah hati.

Kejujuran soal penghasilan ini akan menjauhkan kamu dan pasangan dari perasaan saling curiga. Dan bikin rumah tangga adem, ayem, tentram.

2. Diskusikan pengeluaran bersama

Meskipun berjauhan, kamu dapat mendiskusikan pengeluaran bersama melalui video call. Dalam hal ini, tetap menggunakan rumus mengatur keuangan 10-20-30-40.

Utamakan kebutuhan daripada keinginan. Pemenuhan kebutuhan tentu saja disesuaikan dengan standar di tempat tinggal masing-masing.

Misalnya biaya makan di Jakarta pasti lebih mahal ketimbang di Yogyakarta. Jadi, alokasi bujet pasti akan lebih besar.

Selanjutnya bila ada anggaran hiburan, seperti istri ingin perawatan ke salon atau suami yang ingin menekuni hobinya, bisa dibicarakan baik-baik.

Yang terpenting adalah komunikasi. Tanpa komunikasi, rawan terjadinya kesalahpahaman sehingga berujung pada perselisihan.

Baca Juga: 11 Cara Cerdas Menabung untuk Beli Rumah

3. Buat anggaran khusus untuk berdua

Namanya suami istri tetap harus berkumpul. Instensitasnya disesuaikan dengan kesepakatan bersama dan kondisi keuangan.

Jika jaraknya tidak terlalu jauh, seperti Jakarta-Bandung bisa berkumpul seminggu sekali. Atau Jakarta-Yogyakarta, sebulan dua kali. 

Tentu saja perlu anggaran khusus untuk membeli tiket, sampai nantinya pergi bersama untuk melepas rindu, seperti ke tempat rekreasi mengajak anak-anak supaya keharmonisan tetap terjaga.

Bila sedang banyak pengeluaran atau ingin berhemat, kamu dan pasangan bisa mengubah waktu pertemuan. Misalnya dari seminggu sekali menjadi sebulan sekali.

Mengatur Keuangan
Mengatur keuangan

4. Siapkan dana darurat

Kejadian yang tidak diinginkan bisa terjadi kapanpun dan di manapun. Tidak ada yang tahu akan datangnya musibah.

Jadi, kamu dan pasangan tetap harus mengalokasikan uang untuk dana darurat. Besarannya 10% atau 15% dari gaji sebulan.

Hindari menarik dana darurat untuk membiayai keperluan yang tidak mendesak. Biarkan dana darurat tetap utuh di rekeningmu kecuali jika sudah dalam kondisi gawat.

Baca Juga: Berapa Jumlah Ideal yang Harus Dialokasikan dari Gaji untuk Asuransi Mobil?

5. Buat tujuan keuangan jangka panjang

Seseorang yang belum menikah saja punya tujuan keuangan, apalagi yang sudah berumah tangga. Benar kan? Tujuan keuangannya bukan lagi dalam jangka pendek, tapi juga jangka panjang mengingat semakin banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi.

Misalnya biaya pendidikan anak, membeli rumah, hingga dana pensiun nanti. Tujuan ini secara tidak langsung akan melatih kerja sama kamu dan pasangan sebagai partner. 

Tujuan ini pula yang akan melatih kamu dan pasangan hidup lebih hemat. Penggunaan uang jadi lebih fokus dan terarah demi mencapai tujuan keuangan bersama.

6. Berinvestasi untuk masa depan

Siapa bilang investasi itu hanya untuk pasangan yang tinggal berdekatan? Kamu dan pasangan yang dipisahkan oleh jarak pun bisa berinvestasi, seperti reksadana, saham, emas, obligasi, deposito, dan lainnya.

Dari penghasilan kamu dan pasangan setiap bulan, sisihkan 10% atau 20% untuk investasi. Tentunya di instrumen yang sesuai dengan kesepakatan bersama.

Atau bisa juga istri investasi emas, sedangkan suami investasi di instrumen yang lebih agresif seperti saham. Jadi, kamu punya diversifikasi investasi untuk meminimalisir kerugian.

Evaluasi Keuangan Bersama

Bukan hanya mengatur keuangan, kamu dan pasangan juga wajib melakukan evaluasi keuangan bersama walaupun terpisah jarak dan waktu.

Evaluasi anggaran dapat dilakukan ketika kamu dan pasangan sedang berkumpul bersama. Sehingga kalau ada permasalahan dapat didiskusikan dan diselesaikan bersama.

Dengan jurus mengatur keuangan seperti ini, kemesraan kamu dan pasangan tetap terjaga, tidak ada saling curiga, dan rumah tangga bisa terus langgeng sampai maut memisahkan.

Baca Juga: Karakter Keuangan Masing-masing Generasi, Kamu yang Mana?

 



Sumber