Akhir-akhir ini kita sering mendengar beberapa punggawa ekonomi menyebut taper tantrum. “Virus” apa lagi tuh? Lebih parah kah dari Covid-19?

Taper tantrum bukan sejenis virus atau bakteri. Tetapi sebuah keadaan gejolak pasar keuangan ketika The Fed (bank sentral AS) mengetatkan kebijakan moneternya.

Kalau bencana Covid-19 sudah terjadi dan masih menghantui sampai saat ini, taper tantrum baru sebatas kekhawatiran. Jadi salah satu ancaman bagi pemulihan ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia di tahun depan.

Ah, taper tantrum mah urusan orang berduit. Tak ada ngefeknya buat kita yang cuma remahan rengginang. Eits, jangan salah. Dampak taper tantrum bisa meluas ke mana-mana.

Baca Juga: Jangan Ragu, Investasi Emas Masih Untung Saat Rupiah Buntung

 

Taper Tantrum
Taper tantrum adalah gejolak di pasar keuangan akibat pengetatan kebijakan moneter The Fed

Pengertian Taper Tantrum

Taper tantrum adalah kebijakan mengurangi nilai pembelian aset, seperti obligasi atau quantitative easing oleh The Fed. Jika itu dilakukan, maka aliran modal akan keluar dari negara emerging market dan kembali ke AS sehingga dapat memicu gejolak pasar keuangan.

Sederhananya begini. Kalau ekonomi AS membaik, biasanya akan diikuti dengan kenaikan inflasi dan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (US Treasury).

Hal tersebut akan membuat investor asing berbondong-bondong cabut dari pasar keuangan negara emerging market, seperti Indonesia, kembali ke Negeri Paman Sam karena dianggap lebih menarik.

Nah, kita bakal kelabakan jika hal itu terjadi. Sebab pasar keuangan Indonesia masih bergantung pada investor asing meski saat ini porsi kepemilikan asing di pasar modal dan SBN (Surat Berharga Negara) semakin menciut.

Dengan kata lain, sudah didominasi investor domestik sehingga pasar keuangan RI tak goyang-goyang amat bila sewaktu-waktu dana asing kabur (capital outflow).

Baca Juga: Tetap Tenang, Begini Cara Kelola Uang di Kala Resesi Ekonomi

Tanda-tanda Taper Tantrum

Memang banyak faktor yang mendorong bank sentral AS melakukan pengetatan kebijakan moneter, sehingga dapat menimbulkan taper tantrum. Namun yang paling umum, dapat dilihat dari dua indikator utama, yakni data inflasi dan yield US treasury.

Imbal hasil atau yield US treasury saat ini sudah naik ke kisaran 1,6%. Bahkan diperkirakan masih akan mendaki sampai level 1,9%.

Sementara inflasi AS terus meningkat. Pada April, inflasi AS mencapai angka 4,2%. Ini tanda-tanda yang sudah terlihat setelah pemerintah menggelontorkan stimulus jumbo senilai USD 1,9 triliun yang dibagikan ke penduduknya.

Taper Tantrum
Ancaman taper tantrum akan berdampak pada nilai tukar rupiah

Dampak Taper Tantrum ke RI

Lalu apa dampak semua ini ke Indonesia, terutama rupiah, suku bunga, dan investasi saham?

  • Kurs rupiah bisa ambyar

Ketika asing menarik dananya dari instrumen investasi saham atau obligasi, kemudian keluar dari Indonesia, pasti membutuhkan dolar AS. Walhasil, permintaan dolar AS akan meningkat.

Bila banyak orang yang tukar rupiah ke dolar AS, kurs mata uang Garuda bisa tertekan atau melemah. Apalagi disertai kepanikan, rupiah bisa ambrol.

Taper tantrum pernah terjadi dan memukul pasar keuangan Tanah Air di tahun 2013. Nilai tukar rupiah waktu itu di kisaran 9.700 per dolar AS. Tetapi merosot hingga Rp 14.700 per dolar AS pada September 2015. Pelemahannya lebih dari 50%.

Sekarang saja kurs rupiah menyentuh level Rp 14.262 per dolar AS (data JISDOR BI per 8 Juni 2021). Sementara posisi 4 Januari 2021 sebesar Rp 13.903 per dolar AS atau melemah 2,5%.

Jika rupiah melemah, biasanya akan diikuti kenaikan harga emas, barang-barang dan bahan pangan impor, seperti barang elektronik, tempe (kedelai impor), bawang putih, dan sebagainya.

Bila taper tantrum jilid 2 sampai benar-benar terjadi, mungkin saja rupiah akan bernasib sama dengan kondisi 2013. Atau justru bertahan karena pastinya Bank Indonesia (BI) sebagai regulator akan melakukan berbagai upaya untuk tetap menstabilkan nilai tukar rupiah.

KPR
Suku bunga kredit, termasuk KPR akan terkerek naik

  • Suku bunga naik

Ini dampak yang ditakuti para debitur, kenaikan suku bunga bank. Sejauh ini, debitur dimanjakan dengan suku bunga rendah karena memang trennya demikian.

Bayar cicilan jadi lebih ringan, termasuk angsuran KPR. Tetapi hati-hati dengan adanya taper tantrum jilid 2.

Saat ekonomi AS pulih, inflasi naik, maka The Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuannya. Berarti kondisi sudah kembali normal.

Efeknya apa? BI juga harus mengerek 7 Day Reverse Repo Rate. Biar tetap menjaga daya tarik investor.

Investor melirik, debitur yang paceklik. Sebab pastinya perbankan bakal mengatrol tingkat bunga kredit. Otomatis, cicilan KPR dan pinjaman lain jadi lebih mahal. Makanya, buruan ambil KPR sebelum taper tantrum terjadi.

Baca Juga: Inflasi: Pengertian, Penyebab, Rumus Menghitung, dan Dampaknya ke Ekonomi RI

  • IHSG dan investasi saham

Dulu di 2013, porsi kepemilikan asing mondominasi di pasar saham. Kini, semakin menyusut. Persentasenya sebesar 41,40%.

Jikalau terjadi taper tantrum, dana asing keluar, gejolak IHSG tidak akan separah 8 tahun silam. Meski begitu tetap kena guncangannya.

Pada perdagangan (9/6), IHSG dibuka melemah ke level 5.978,092. Taper tantrum masih menjadi kekhawatiran investor.

Siapkan Dana Darurat dan Beralih ke Emas

Pemerintah, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pasti sudah punya amunisi untuk menghadapi taper tantrum. Bagaimana denganmu?

Jurus pamungkas yang bisa kamu lakukan adalah menyiapkan dana darurat. Buat jaga-jaga siapa tahu harga kebutuhan pangan dan barang-barang naik, bunga KPR melambung akibat taper tantrum.

Sehingga kamu bisa menutup mahalnya biaya tersebut dengan dana darurat. Sisihkan sekitar 10% dari gaji setiap bulan untuk dana darurat.

Selain itu, kalau kamu berinvestasi saham, coba lakukan diversifikasi untuk meraup keuntungan. Dengan mengoleksi dolar AS karena berpotensi terjadi penguatan andai pengetatan kebijakan The Fed direalisasikan.

Atau bisa juga investasi emas. Di mana jika rupiah tertekan saat terjadi capital ouflow, biasanya harga emas justru menanjak.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah. Apa Hubungannya dengan Harga Barang di Pasar?

 



Sumber